Peristiwa-Peristiwa di Suriah dan Kemunduran Qasad (Quwâtu Sûriya ad-Dîmuqrâthiyah) atau SDF (The Syirian Democratik Forces)
بسم الله الرحمن الرحيم
Jawab Soal
Peristiwa-Peristiwa di Suriah dan Kemunduran Qasad (Quwâtu Sûriya ad-Dîmuqrâthiyah) atau SDF (The Syirian Democratik Forces)
Soal :
Peristiwa-peristiwa terjadi dengan cepat di Suriah timur laut, dan SDF dengan sangat cepat kehilangan kendali atas wilayah-wilayah yang diambil alih oleh rezim Suriah. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana hal ini dapat dipahami mengingat baik rezim maupun SDF adalah agen Amerika? Dan terlepas dari kenyataan bahwa lampu hijau Amerika untuk pemerintah Suriah sangat jelas untuk merebut wilayah-wilayah tersebut, apa yang direncanakan pemerintahan Trump di Suriah atau wilayah sekitarnya?
Jawab :
Supaya jelas jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kami paparkan hal-hal berikut :
Pertama : fase-fase dukungan Amerika untuk SDF.
1. Pasukan Suria Demokratik (Qasad -Quwwatu Sûriyâ ad-Dîmuqrâthiyah- /SDF -The Syrian Democratic Forces-) merupakan aliansi luas yang dibentuk pada Oktober 2015 dengan tujuan memerangi ISIS. Qasad/SDF terdiri dari para kombatan Kurdi, Arab, Syiria, Armenia dan Turkmenistan. Komponen terbesar SDF adalah Unit Perlindungan Rakyat (YPG - Yekîneyên Parastina Gel) dan Unit Perlindungan Perempuan (YPJ - Yekîneyên Parastina Jin), yang bertanggung jawab atas keamanan dan pertahanan daerah-daerah administrasi otonom yang diproklamirkan di Rojava... (Wikipedia). Amerika Serikat telah menjadi pendukung setia SDF sejak pembentukannya pada tahun 2015 dan sejak intervensi AS di Suriah pada tahun 2014, yang mendahului intervensi Rusia.
Pasukan AS telah memberikan perlindungan udara dan dukungan finansial serta persenjataan yang besar kepada SDF. Komitmen AS terhadap SDF begitu kuat sampai SDF membunuh ratusan kombatan Grup Wagner Rusia yang mencoba menyeberangi Sungai Eufrat ke arah timur pada Februari 2018. AS juga secara konsisten menentang semua pernyataan dan upaya Turki untuk menyasar SDF... Begitulah, AS memberikan dukungan kepada SDF sejak pembentukannya dan perlindungan udara untuk SDF. Begitu juga dukungan politik, di samping dukungan finansial dan persenjataan, serta memfasilitasi kendali SDF atas lahan subur di sekitar Eufrat, ladang-ladang minyak dan gas, dan pembangkit-pembangkit listrik. Juga penolakan Amerika atas penentangan Turki terhadap kebijakan Amerika ini di Suriah timur laut. Semua itu adalah bagian dari persiapan Amerika untuk menyediakan alat-alat memerangi Islam jika al-Khilafah al-Islamiyah bertolak dari Damaskus.
2. Dan sekarang, Trump memandang bahwa pemerintahan Ahmad asy-Syara’ lebih mampu merealisasi kepentingan-kepentingan Amerika di kawasan. Dan yang paling menonjol adalah dua hal : menjauhkan sistem pemerintahan Islam dari Suria ... dan tunduk kepada tuntutan-tuntutan entitas Yahudi di Suria dan Palestina, sehingga tidak menentang entitas ini hingga meski entitas Yahudi melakukan serangan pagi dan petang! Oleh karena itu, Trump, lalu para menterinya, mengadopsi sikap telah berakhirnya peran SDF dan digantikan oleh rezim Suria dalam melayani kepentingan Amerika di kawasan .. Hal ini tidak tersembunyi, tetapi itu yang dinyatakan siang dan malam oleh utusan Amerika untuk Suria Tom Barrack selama kunjungannya. Demikian juga pernyataan-pernyataan prersiden Turki dan Suria :
a. Tom Barrack menyatakan : “Tujuan asli SDF sebagai pasukan utama untuk memerangi ISIS telah berakhir. Ia mengisyaratkan bahwa Damaskus menjadi layak untuk memikul tanggungjawab keamanan termasuk kendali atas pusat-pusat penahanan ISIS” (al-Jazeera.net, 21/1/2026).
* Dalam pernyataan tom Barrack melalui platform X, ia mengatakan : “Situasi berubah secara radikal. Dan ini mengubah justifikasi eksistensi kerjasama antara AS dan SDF. Wewenang SDF sebagai pasukan mendasar di medan melawan ISIS telah berakhir. Sebab Damaskus sekarang telah siap dan bersedia dalam memikul tanggungjaab keamanan, termasuk kendali atas penjara-penjara dan kamp-kamp ISIS” (BBC, 20/1/2026).
* Ia juga menyatakan dalam sebuah unggahan panjang di halaman platform X-nya, yang diterjemahkan oleh Kedutaan Besar AS di Suriah: “Saat ini, situasinya telah berubah secara radikal. Suriah sekarang memiliki pemerintahan pusat yang diakui, dan telah bergabung dengan koalisi internasional untuk mengalahkan ISIS (sebagai anggota kesembilan puluh pada akhir tahun 2025). Ia menambahkan mengenai integrasi SDF ke dalam militer Suriah: “Integrasi ini, yang didukung oleh diplomasi Amerika, mencerminkan peluang terkuat hingga saat ini bagi Kurdi untuk mengamankan hak-hak permanen dan keamanan yang stabil di dalam negara Suriah yang diakui...” (CNN berbahasa arab, 21/1/2026).
b. Presiden Turki Recep Tayib Erdogan pada hari Rabu mengatakan bahwa Pasukan Kurdi di Suriah utara harus meletakkan senjatanya dan membubarkan barisannya segera hingga sampai pada batas bubar tanpa menumpahkan darah lebih banyak. Hal itu setelah Damaskus memberinya tenggat empat hari untuk menetapkan rencana pengintegrasian Hasakah di dalam negara pusat” (al-Jazeera.net, 21/1/2026).
c. Kepresidenan Suriah dalam sebuah pernyataan pada Senin mengumumkan bahwa Presiden transisi Suriah Ahmad asy-Syara’ melakukan kontak telephon dengan Presiden Amerika Donald Trump. Sesuai pernyataan yang dilansir oleh Kantor Berita Suriah (SANA) : “Kedua presiden dalam percakapannya menekankan pentingan menjaga kesatuan wilayah dan kemerdekaan Suriah, dan mendukung semua upaya yang bertujuan untuk merealisasi stabilitas. Dan keduanya menegaskan pentingnya menjamin hak-hak dan perlindungan rakyat Kurdi di dalam kerangka negara Suriah” (CNN berbahasa arab, 19/1/2026).
Kedua : Dari semua itu menjadi jelas bahwa Amerika memberikan lampu hijau kepada Presiden Suriah Ahmad asy-Syara’ untuk mengakhiri SDF. Dan Amerika sekarang tidak menyembunyikan niyatnya, bahkan tidak berupaya menggunakan bahasa diplomatis apapun. Amerika mengumumkan secara terang-terangan bahwa SDF sebagai alat Amerika untuk memerangi terorisme telah berakhir ... Dan bahwa Amerika sekarang ingin bersandar pada alat yang lebih besar yaitu pemerintahan Ahmad asy-Syara’. Keduanya adalah alat Amerika, dan Amerika mengganti alat-alatnya sesuka dia. Semua ini, bersama dengan perkembangan di lapangan menunjukkan banyak hal, kami sebutkan sebagai berikut :
1. Masalah penggantian agen dengan agen lainnya : Dalam revolusi Syam (Suriah) yang melelahkan Amerika dan membuat Obama beruban, Amerika terus mencari agen yang kuat dan mampu memerintah untuk menggantikan agennya, Basyar al-Assad, yang telah dilawan oleh Suriah. Kami katakan di Jawab Soal tertanggal 26 Juli 2025 : “Dan dengan ini, menjadi jelas bahwa rencana Amerika di Suriah dibangun di atas prinsip (kaedah) utama yaitu : mengganti satu agen dengan agen lain. Karena alasan ini, Turki diberi lampu hijau untuk mengancurkan rezim Basyar dan membangun rezim baru yang tunduk padanya”. Turki dan dinas intelijennya mulai menjalankan tugas Amerika ini dan mulai mempersiapkan Ahmad asy-Syara’, yang sebelumnya dikenal sebagai al-Julani...
Beberapa bulan sebelum berakhirnya pemerintahan Biden, Amerika mengizinkan Turki untuk memimpin proses penyerahan Suriah kepada agen Amerika yang baru, Ahmad asy-Syara’. Turki, atas nama Amerika, menghubungi Iran dan Rusia dan menetralisir pasukan kedua negara tersebut di Suriah. Dan Amerika meminta Basyar untuk menyerahkan negeri itu. Dan begitulah yang terjadi. Agen baru dinobatkan menggantikan agen lama, dan Turki tetap menjadi penghubung utama bagi kontak Amerika dengannya...
2. Jadilah, Amerika meminta dari agennya yang baru untuk melakukan lebih banyak keharaman. Dan dia mulai menetapkan pemenuhannya dengan dorongan Turki. Maka dia berlepas diri dari panji yang di dalamnya ada tulisan tauhid dan menggantikannya dengan panji sekulerisme! Dia mengeluarkan amnesti kepada sisa-sisa rezim Basyar sementara terus memenjarakan para pemuda al-Khilafah yang berjuang untuk mewujudkan kabar gembira Rasulullah saw. setelah pemerintahan tiranik yang sedang kita alami.
«.. ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ»
“... kemudian akan ada kekuasaan tiranik dan akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, lalu Beliau diam”...
Dia mengurangi jam pelajaran al-Quran di sekolah-sekolah.. Trump memintanya untuk tidak membalas serangan-serangan berulang dan berat dari entitas Yahudi yang menargetkan Damaskus sendiri.. Kemudian Trump memintanya untuk bernegosiasi dengan entitas Yahudi, sehingga terjadilah serangkaian putaran negosiasi yang dipimpin oleh menteri luar negerinya, asy-Syaibani, tanpa rasa malu atau takut baik kepada Allah SWT, Rasul-Nya saw. maupun orang-orang beriman, khususnya penduduk Gaza.
Tuntutan pemerintah Ahmad asy-Syara’ dari entitas Yahudi selama negosiasi sangat sepele sampai pada tingkat yang mana Basyar sang kriminal itu bahkan menegosiasikan tuntutan yang lebih jauh dari tuntutan ini dalam negosiasi sebelumnya pada tahun 2008, yang disponsori oleh Turki sebelum pecahnya revolusi Suriah. Dan dengan penerimaan asy-Syara’ untuk melakukan semua (keharaman) ini, Amerika membuka jalur politik langsung dengannya, mengikuti jalur intelijen dan jalur Turki. Jalur politik pertama adalah pertemuan agen Amerika, Ibnu Salman, dengan Ahmad asy-Syara’ di Riyadh pada 14 Mei 2025.
Kemudian jalur tersebut mulai meluas dan Ahmad asy-Syara’ menerima pujian dari presiden Amerika hingga ia diterima di Gedung Putih pada 11 November 2025, meskipun melalui pintu belakang dan tanpa upacara penyambutan. “Trump menyatakan kemarin malam bahwa ia “berhubungan baik” dengan Presiden Suriah Ahmad asy-Syara’, menekankan bahwa Washington akan melakukan segala daya upaya untuk membuat Suriah berhasil” (RT, 11 November 2025).
3. Menteri luar negeri Turki Hakan Fidan di Gedung Putih mendiskusikan jalan untuk keluar dari persoalan-persoalan yang ada di Suriah bersamaan waktunya dengan kunjungan presiden Suriah Ahmad asy-Syara’ ke Washington dan bertemu dengan Presiden Amerika, Trump. Menteri Fidan mengumumkan dilakukannya pembicaraan-pembicaraan di Gedung Putih dengan menteri luar negeri Amerika Rubio, utusan khusus Presiden Amerika Witkoff, utusan Amerika ke Suria Tomas Barrack dan menteri luar negeri Suriah As’ad asy-Syaibani. Belakangan Wakil Presiden Amerika J.D. Vance ikut bergabung di dalam pertemuan tersebut. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa para peserta pertemuan mendiskusikan jalan yang mungkin untuk keluar dari masalah-masalah yang ada di Suriah” (RT, 11 November 2025).
4. Selama itu, Amerika mencabut sanksi terhadap Suriah secara bertahap, untuk memastikan pada setiap tahapnya bahwa Ahmad asy-Syara’ membuktikan dirinya sebagai agen setia Amerika. Oleh karena itu, Suriah bergabung dengan koalisi internasional untuk memerangi ISIS. “Suriah bergabung dengan koalisi internasional melawan ISIS dengan pimpinan AS yang dibentuk pada tahun 2014. Kedutaan Besar AS di Damaskus dalam sebuah unggahan di platform perusahaan “X” Amerika pada hari Selasa, 11 November 2025, mengumumkan bergabungnya Suriah ke koalisi internasional untuk memerangi ISIS dan secara resmi Suriah menjadikan mitra ke-90 yang bergabung ke koalisi internasional melawan ISIS” (Anadolu Agency, 12 November 2025). Kemudian, sanksi AS terhadap Suriah dicabut. “Presiden AS Donald Trump menandatangani pencabutan Undang-Undang Caesar, yang telah memberlakukan sanksi terhadap Suriah sejak 2019” (al-Jazeera, 19 Desember 2025).
Ketiga: selama peristiwa saat ini, pasukan SDF menarik diri dari beberapa wilayah. Dan menurut pernyataan panglima SDF Mazhlum ‘Abdiy, penarikan diri dari sebelah barat Eufrat ke sebelah timurnya adalah dengan saran dari “teman-teman mediator” (web site Kurdistan 24, 16 Januari 2026). Tentu saja, Amerika adalah pemimpin teman-teman mediator itu dan yang mendorong implementasi kesepakatan SDF dengan Pemerintah Suriah pada 10 Maret 2025 :
“Presiden Suriah Ahmad asy-Syara’ dan panglima SDF Mazhlum ‘Abdiy pada Senin menandatangani perjanjian pengintegrasian semua institusi sipil dan militer di bawah administrasi otonom Kurdi dalam kerangka negara Suriah, sesuai dengan apa yang diumumkan oleh kepresidenan ...” (al-‘Arabiya, 10/3/2025).
Kemudian pemerintah Suriah menandatangani perjanjian yang kedua dengan SDF, yang mengharuskan SDF menarik diri dan menyerahkan “segera” dua provinsi Dir az-Zur dan Raqqa. Utusan AS mendukung perjanjian tersebut, menganggapnya sebagai titik balik penting dan bahwa Amerika menginginkan Suriah yang bersatu: “Utusan AS untuk Damaskus, Tom Barrack, menganggap perjanjian yang diumumkan oleh Presiden Suriah Ahmad asy-Syara’, yang ditandatanganinya dengan komandan SDF, Mazhlum ‘Abdiy, sebagai “titik balik penting”.
Barrack mengatakan dalam sebuah unggahan di platform “X”: “Perjanjian ini dan gencatan senjata ini mencerminkan sebuah titik balik penting, karena pihak yang sebelumnya bermusuhan memilih kemitraan daripada perpecahan”. Ia memuji upaya “konstruktif” kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan yang “membuka jalan bagi pembaruan dialog dan kerja sama menuju Suriah yang bersatu” (TV al-Araby, 18 Januari 2026).
Keempat: Faksi-faksi garis keras di dalam SDF, terutama mereka yang bekerja sama dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), menunda implementasi, dengan harapan menemukan celah dalam kebijakan Amerika. Mereka bersikeras agar SDF diintegrasikan ke dalam tentara sebagai satu kesatuan, bukan sebagai individu. Al-Arabiya pada 17 Januari 2026 melaporkan tentang pertemuan Erbil, bahwa komandan SDF Mazhum ‘Abdiy ingin meyakinkan Amerika untuk mengintegrasikan SDF sebagai tiga divisi ke dalam militer Suriah. Tetapi, celah itu tidak dibuka dalam sikap Amerika, baik dalam pertemuan di Erbil maupun sebelumnya. Pemerintah Ahmad asy-Syara’ kemudian mulai melancarkan serangan, yang berarti pengimplementasian perjanjian tersebut secara paksa, dimulai dari lingkungan Aleppo.
Selanjutnya, SDF dipaksa untuk menandatangani perjanjian kedua dengan pemerintah, di mana mereka akan menyerahkan provinsi Dir az-Zur dan Raqqa “segera”. Amerika mendukung perjanjian ini. Dan seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, SDF dalam setiap perjanjian itu mencoba menunda, tetapi intervensi suku-suku Arab dan serangan mereka terhadap SDF tidak memberi ruang untuk itu, meskipun presiden Suriah menyerukan suku-suku tersebut untuk tetap tenang: “Asy-Syara’ berkata: “Kami menasihati suku-suku Arab kami untuk tetap tenang dan memberikan ruang untuk implementasi poin-poin perjanjian tersebut”. Milisi Arab telah bergabung dengan militer dalam bentrokan dengan SDF sejak Sabtu (CNN berbahasa arab, 19 Januari 2026).
Kelima: Begitulah, peristiwa-peristiwa berlangsung makin cepat dengan kecepatan tinggi:
1. Pemerintah Suriah mengumumkan bahwa proses pengintegrasian para kombatan SDF akan terjadi di atas asas individual dan bukan sebagai satu kelompok atau divisi militer di dalam militer dan kementerian dalam negeri. Pemerintah Suriah juga mengumumkan jaminan mengenai hak-hak “kultural” penduduk dan pemberian kewarganegaraan.
Dan secara riil Pemerintah mulai menerima wilayah di provinsi Raqqa dan Dir az-Zur dan memasuki provinsi Hasakah serta memperluas kendalinya di sana, sehingga SDF tidak memiliki ruang untuk bernegosiasi kecuali mengenai Hasakah: “Kementerian Pertahanan Suriah pada Senin malam mengumumkan gencatan senjata antara pasukan Suriah dan SDF, dimulai pukul 20.00 (sekitar satu jam dari sekarang) untuk jangka waktu empat hari. Ini terjadi setelah Kepresidenan Suriah mengumumkan tercapainya kesepahaman bersama antara pemerintah dan SDF mengenai isu-isu terkait masa depan provinsi Hasakah” (al-Jazeera.Net, 20 Januari 2026). Perjanjian ini hanya memberi SDF sedikit uslub menyenangkan : “Kantor Berita Suriah (SANA) pada Selasa mengutip Kepresidenan Suriah yang mengatakan bahwa komandan SDF, Mazhlum ‘Abdiy, akan mengajukan seorang kandidat dari SDF untuk posisi Asisten Menteri Pertahanan, selain mengusulkan seorang kandidat untuk posisi Gubernur Hasakah, nama-nama untuk perwakilan di Parlemen, dan daftar individu untuk dipekerjakan di lembaga-lembaga negara Suriah” (CNN berbahasa arab, 20/1/2026).
Kepresidenan menyatakan bahwa, jika tercapai kesepakatan, “pasukan Suriah tidak akan memasuki pusat kota Hasakah dan Qamishli dan akan tetap berada di pinggiran kota, dengan jadwal dan rincian integrasi damai provinsi Hasakah, termasuk kota Qamishli, akan dibahas kemudian” (BBC, 20/1/2026). “Kedua pihak sepakat bahwa pasukan pemerintah Suriah tidak akan memasuki desa-desa Kurdi, dan bahwa pasukan keamanan lokal dari wilayah tersebut akan bertanggung jawab untuk mengamankan desa-desa tersebut” (CNN berbahasa arab, 20/1/2026).
2. Setelah Amerika memutuskan pemindahan para tahanan ISIS dari penjara yang berada di bawah kontrol SDF ke Irak, SDF diminta oleh Amerika memperpanjang tenggat sampai pemindahan para tahanan itu selesai, dan itulah yang terjadi. “Kementerian pertahanan Suriah mengumumkan perpanjangan tenggat gencatan senjata dengan SDF selama 15 hari untuk proses Amerika mengosongkan para tahanan ISIS dari penjara. Kementerian pertahanan menjelaskan di akunnya di X bahwa perpanjangan tersebut dimulai malam ini pada pukul 23.00 waktu setempat dan hal itu sebagai dukungan untuk pengosongan penjara SDF dari para tahanan ISIS dan pemindahan mereka ke Irak ...” (al-Jazeera, 24/1/2026).
Dengan ini berlangsung proses pembalikan halaman (penyingkiran) SDF dan komandannya, agen Amerika kecil Mazhlum ‘Abdiy, setelah ia menyelesaikan misi Amerikanya. Amerika mengakhiri masa pelayanan (tugas)nya dengan imbalan “uang pensiun kecil” yaitu pengangkatan karyawan di sana-sini, yang mungkin bersifat sementara. Pihak yang mengatur peristiwa-peristiwa di wilayah tersebut adalah Amerika, dan jika kepentingannya membutuhkan perubahan posisi, Amerika memerintahkan para penguasa agennya untuk melaksanakannya tanpa ragu atau rasa malu”.
﴿أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ﴾..
“Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu” (TQS an-Nahl [16]: 59).
Keenam: begitulah, sungguh termasuk hal yang menyakitkan, Suriah menjadi bawahan yang tunduk kepada Amerika setelah semua pengorbanan yang diberikan oleh warga Suriah di jalan mengubah rezim dan mendirikan Islam sebagai gantinya. Amerika telah berhasil membeli loyalitas murahan pemimpin untuk mendapatkan kursi kekuasaan yang miring, yang melayani kepentingan Amerika demi bisa bertahan di atas kursi ini dan mengamankan kendali Amerika atas seluruh wilayah Suriah. Pemimpin ini meninggalkan penerapan Islam dan jihad untuk membebaskan tanah yang diduduki! Dia bahkan mengeluarkan Suriah dari front peperangan melawan musuh yang bahkan kriminal yang lari, Basyar al-Assad pun tidak berani melakukannya! Penguasa Suriah lupa, atau berpura-pura lupa, bahwa menempelnya dia dalam dekapan Amerika tidak akan membuatnya tetap di atas kursinya jika Amerika menemukan agen yang lebih cakap untuk melayani kepentingannya.
Ia memiliki contoh, bahkan banyak contoh, dari para pendahulunya yang menegaskan hal ini dengan sangat tegas. Tidakkah para penguasa ini, kroni-kroni mereka, dan rombongan mereka, agen-agen Amerika, belajar dari bagaimana Amerika menjatuhkan agen-agennya, merasa puas dengan pelayanan mereka, dan meninggalkan mereka setelah mimpi-mimpi mereka pudar, dengan tanpa berpikir dua kali atau menitikkan setitik air mata pun, setelah mereka mendatangkan kerusakan di muka bumi sebagai pelayanan kepada Amerika. Kemudian, Amerika mencampakkan mereka ke tepi jalan dan menyingkirkan mereka ketika pelayanan mereka tidak lagi dibutuhkan dengan adanya agen baru yang lebih mampu melayani Amerika daripada pendahulunya! Dan benarlah firman Allah SWT tentang para penguasa agen ini.
﴿فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾
“Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui” (TQS az-Zumar [39]: 26).
08 Sya’ban 1447 H
27 Januari 2026 M
https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/107351.html

Komentar
Posting Komentar